
Lhoksukon Humas MAN 2 Aceh Utara
Semangat literasi keislaman dan kecintaan terhadap khazanah keilmuan Islam kembali digaungkan oleh MAN 2 Aceh Utara melalui kegiatan Festival Madrasah Berkarakter MAN 2 Aceh Utara (FeMBer MANDA) Tahun 2026. Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus menyambut Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.
Salah satu cabang festival yang mendapat perhatian khusus adalah Musabaqah Qiraatul Kutub, yang dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, bertempat di MAN 2 Aceh Utara, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB.
Musabaqah Qiraatul Kutub menjadi ruang bagi para murid untuk menunjukkan kemampuan membaca, memahami, menerjemahkan, serta menjelaskan kandungan kitab-kitab keislaman. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya madrasah dalam menumbuhkan tradisi keilmuan Islam yang berakar pada literasi kitab turats.

Al-Bajuri dan Matan Taqrib Jadi Materi Musabaqah
Dalam pelaksanaan Musabaqah Qiraatul Kutub, kitab yang dimusabaqahkan adalah Kitab Al-Bajuri sebagai materi utama bagi murid yang telah memiliki kemampuan membaca kitab Arab gundul. Sementara itu, Matan Taqrib diperuntukkan bagi murid yang belum memiliki kemampuan membaca kitab Arab gundul secara optimal.
Pembagian materi tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian madrasah terhadap keberagaman kemampuan peserta. Dengan demikian, setiap murid tetap memperoleh ruang untuk berpartisipasi sesuai dengan tingkat kemampuan dan pengalaman belajarnya.
Tidak sekadar membaca teks, peserta juga ditantang untuk memahami kandungan kitab dan mempertanggungjawabkan pemahamannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh dewan hakim.

Empat Aspek Menjadi Dasar Penilaian
Dewan hakim/juri dalam Musabaqah Qiraatul Kutub terdiri atas Sulaiman, M.Pd., selaku Kepala MAN 2 Aceh Utara; Iriani, M.Ag., selaku Kepala Urusan Tata Usaha MAN 2 Aceh Utara; serta Ratu Nayla Syakila, Alumni Terbaik MAN 2 Aceh Utara Tahun 2026.
Penilaian peserta dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan beberapa aspek penting, yaitu:
Kelancaran Bacaan atau Matan, meliputi kemampuan peserta membaca teks dengan lancar dan tepat;
Ketepatan Terjemahan, yaitu kemampuan menerjemahkan teks yang dibaca secara benar sesuai dengan konteks;
Kemampuan Penjelasan/Surrah, berupa kemampuan peserta menjelaskan maksud dan kandungan teks yang dibaca;
I‘rab, yaitu kemampuan peserta memahami dan menjelaskan kedudukan kata dalam struktur bahasa Arab.

Selain penilaian tersebut, peserta juga diberikan beberapa pertanyaan secara langsung oleh dewan hakim/juri untuk menguji tingkat pemahaman dan penguasaan materi yang dimusabaqahkan.
Melalui mekanisme tersebut, Musabaqah Qiraatul Kutub tidak hanya mengukur kemampuan teknis membaca kitab, tetapi juga mendorong murid agar mampu memahami, menguraikan, dan mengembangkan pengetahuan keislaman yang diperoleh melalui pembelajaran kitab.

Menumbuhkan Generasi Madrasah yang Cinta Ilmu dan Tradisi Keislaman
Kegiatan Musabaqah Qiraatul Kutub yang di ikuti oleh puluhan Murid Putra dan Putri MAN 2 Aceh Utara diharapkan menjadi sarana pembinaan bagi murid untuk lebih mencintai kitab-kitab keislaman dan membangun tradisi membaca serta memahami literatur klasik Islam.
Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar MAN 2 Aceh Utara dalam membentuk generasi madrasah yang berilmu, berakhlak, berkarakter, serta memiliki kemampuan literasi keislaman yang kuat.
Semangat tersebut sejalan dengan spirit FeMBer MANDA yang mengusung gagasan “Dari Al-Qur’an Berkarya Untuk Negeri”, bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dan khazanah keilmuan Islam dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan generasi yang mampu berkarya dan memberikan kontribusi positif bagi bangsa.

Ketua Komite: Kegiatan yang Perlu Dipertahankan dan Dikembangkan
Ketua Komite MAN 2 Aceh Utara, Iskandar, S.Kom, MSM, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Musabaqah Qiraatul Kutub sebagai bagian dari FeMBer MANDA 2026.
Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat penting untuk terus dikembangkan karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada murid. Musabaqah tidak hanya menghadirkan suasana kompetisi, tetapi juga membangun keberanian, kedisiplinan, kecintaan terhadap ilmu agama, serta kemampuan murid dalam menyampaikan pemahamannya di hadapan orang lain.
“Musabaqah Qiraatul Kutub merupakan kegiatan yang sangat positif karena menghidupkan kembali tradisi membaca dan memahami kitab-kitab keislaman di kalangan generasi muda. Anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga dituntut memahami, menerjemahkan, menjelaskan, dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang mereka baca. Ini merupakan bekal penting bagi mereka dalam membangun karakter dan wawasan keislaman,” ujar Iskandar.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda festival semata, tetapi dapat menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan di madrasah. “Kami berharap FeMBer MANDA terus menjadi wadah untuk menggali dan mengembangkan potensi murid, baik dalam bidang keagamaan, literasi, seni, budaya maupun keterampilan lainnya. Khusus untuk Qiraatul Kutub, mudah-mudahan semakin banyak murid yang tertarik mempelajari kitab kuning dan menjadikan tradisi keilmuan Islam sebagai bagian dari kehidupan mereka,” tambahnya.
FeMBer MANDA: Merawat Tradisi, Membangun Karakter
Pelaksanaan Musabaqah Qiraatul Kutub menjadi salah satu bukti bahwa peringatan kemerdekaan dan penyambutan Maulid Nabi Muhammad SAW di MAN 2 Aceh Utara tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kegiatan edukatif, religius, dan berorientasi pada pembentukan karakter murid.
Melalui FeMBer MANDA Tahun 2026, MAN 2 Aceh Utara terus berupaya menghadirkan ruang bagi murid untuk belajar, berkompetisi, berkarya, sekaligus menguatkan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.

Semangat kemerdekaan diharapkan melahirkan generasi yang merdeka dalam berpikir, kuat dalam iman, luas dalam literasi, serta mampu berkarya untuk negeri. Sementara momentum Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi pengingat agar seluruh proses pendidikan senantiasa berlandaskan keteladanan Rasulullah SAW.
Dari Al-Qur’an Berkarya Untuk Negeri — Merdeka dalam Iman, Berkarya dalam Literasi, Berkarakter dalam Budaya.
